Puncak Haul Almusri 2026 “Mempertahankan Tradisi Almusri”

  Telah diselenggarakannya haul mama syaikhuna yang ke-26 yang digelar di pondok pesantren miftahulhuda al-musri pada tanggal 17-23 januari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai wilayah. Pengajian akbar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ukhwah Islamiyah sekaligus mengenang jasa para guru yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan pesantren.

Adapun susunan acara dari awal sampai akhir ialah:

1. Muqoddimah

2. Pembacaan ayat suci al-quran oleh KH. Mukhlis Thohir (Tasikmalaya)

3. Laporan ketua panitia penyelenggaraan haul

4. Sambutan-sambutan

5. Manakib mama syaikhuna

6. Amanah mama syaikhuna

7. Sambutan bupati Cianjur

8. Pembacaan tausyiah

9. Tahlilan dan shalawat akbar

10. Do’a tutup

Dalam sambutannya Kyai Acep Sanusi menjelaskan bahwa amaliyah amaliyah yang bersangkutan dengan ashab sohibul hal itu mengandung pahala yang mana pahala tersebut terus mengalir kepada guru disertai dengan estafet perjuangan mama syaikhuna dalam mengamalkan ilmu seperti sekarang.

Semoga Allah mengangkat derajat orang yang mencari ilmu yang mana beliau tanpa berhenti berdo’a dan bertawakal kepada Allah. Semoga apa saja amaliyah-amaliyah yang sudah diamalkan diterima disisi allah dan bertambah kemanfaatan ilmunya.

Lalu acara berlanjut dengan pembacaan manakib mama syaikhuna yang dibawakan oleh KH. Farid Hamzah. Adapun biografi singkat mama KH. Ahmad Faqih yaitu berawal dari cerita dimana abah H. Kurdi (ayah mama) menuntut ilmu di daerah kudang yang disebut Kudang Pesantren Tasikmalaya daerah Jawa Barat. Singkat cerita abah H. Kurdi menikah dengan seorang janda anak 1 bernama Hj. Siti Halimah. Tidak berselang lama mama lahir pada bulan januari tahun 1913 bertepatan dengan bulan safar 1931 H di Tasikmalaya.

Lalu mama menuntut ilmu di mama H. Sobandi dan KH. Zaenal Musthofa(pahlawan Indonesia). Beliau menempuh ilmu di Sukamanah selama 12 tahun. Pada tahun 1937 mama memperdalam kepada KH. Fahruroji kurang lebih selama 1 bulan. Setelah itu beliau mukim ke Kp. Kebon Kelapa Cibereum.

Pada tahun 1938 mama menikah dengan Hj. Siti Juhaenah dan mendirikan pesantren. Belanda membakar pesantren dan menangkap mama yang pada saat itu sudah memiliki 2 istri. Singkat cerita akhirnya mama berhasil mendirikan pondok pesantren Miftahulhuda Almusri.

Selanjutnya pembacaan amanah mama dan penerangan amalan mama yang dibacakan oleh KH. Ayi Mahdi yang mana amanat tersebut adalah :

  1. Silaturahmi
  2. Mengamalkan urusan politik Islam
  3. Istiqamah dalam ahlussunnah waljama’ah
  4. Mengamalkan ilmu khidmah
  5. Menyempurnakan pengajaran santri masyarakat

Mama syaikhuna menyukai mukimin yang mempunyai sifat sederhana,kepemimpinan kemandirian,sosial,kepoloporan,dan santun. Dilanjut dengan sambutan bupati Cianjur yaitu dr. Mohamad Wahyu Ferdian Sp.Og. yang menerangkan bahwa kita harus menjadikan haul itu teladan keteguhan iman dan keikhlasan. Sekaligus memperkuat ukhwah islamiyyah,wathoniyah,lisaniyyah dan sarana untuk memperbaiki diri yang mana semua itu berfungsi agar pondok pesantren Miftahulhuda Almusri lebih maju.

Setelah itu acara inti yaitu tahlil,shalawat akbar dan doa tutup yang dipimpin oleh KH. Mahmud Munawwar.

Pengajian akbar berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Melalui kegiatan haul ini, diharapkan nilai-nilai keimanan, kebersamaan, serta keteladanan para ulama dapat terus hidup dan menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *